Senin, 28 September 2015

Menulis Cerpen

Diposting oleh Unknown di 18.33


Tugas bahasa Indonesia paling bikin bingung adalah “menulis”. Bener, kan? Mulai dari menulis karangan, paragraf, teks pidato, apalagi kalau udah menulis cerpen T_T Biasanya yang paling gampang itu search di Google. Eh, pas nanti dinilai, punya temen sebelah sama (padahal udah ngaku karya sendiri) -_-

Yang begini pasti sering kejadian. Alasannya susah, nggak bisa, dan bla bla bla... Padahal cerpen bisa berasal dari pengalaman kita sendiri. Kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan *curhat*, kali pertama ketemu si dia yang bikin hati ser-seran, sakit hati waktu putus, pertama kalinya dirawat di rumah sakit, dapat kejutan ulang tahun, dan peristiwa lain yang kita alami. Pengalaman pribadi bisa jadi sebuah cerpen.

Sekali lagi, menulis itu sama seperti berbicara. Kalau ada perasaan susah atau sulit saat membuat cerpen, kita hanya belum banyak berlatih ^_^

Langkah-langkah menulis cerpen:
1.    Menentukan tema. Yap, teman-teman harus menentukan tema cerpen terlebih dahulu. Bisa tentang percintaan, persahabatan, pendidikan, keluarga, atau sebagainya. Tema ini yang nantinya menjadi dasar cerpen yang dibuat.
2.    Mengumpulkan bahan cerita. Misalnya pengalaman pribadi, pengalaman orang lain dan kejadian di kehidupan sehari-hari.
3.    Menyusun cerita secara garis besar. Meliputi awal cerita, tokoh yang berperan, konflik, dan akhir ceritanya nanti.
4.    Mengembangkan cerita. Nah, mungkin bagian ini yang harus banyak dilatih. Bagaimana untuk memulai suatu cerita dengan paragraf yang baik. Menurutku, awal paragraf sangat menentukan sebuah cerpen. Paragraf pertama harus memberikan kesan menarik dan membuat pembaca penasaran dengan isi cerpen.
5.    Merevisi cerita. Setelah selesai, baca kembali cerpen yang teman-teman buat. Cek apa ada kesalahan dalam tanda baca, atau kalimat yang kurang tepat.

Dalam menulis cerpen, ada juga hal-hal yang harus diperhatikan, seperti:
a.    Narasi. Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir (Wikipedia). Ingat, cerpen merupakan cerita, maka cerita yang paragrafnya baik dan menarik akan menjadikannya enak untuk dinikmati.

b.    Deskripsi. Deskripsi adalah satu kaidah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri (Wikipedia). Namanya juga cerita, lebih baik kalau ada pendeskripsiannya. Jadi pembaca (sebagai orang yang tidak melihat langsung), bisa memiliki visualisasi apa yang penulis bayangkan. Misalnya, kita ingin bilang kalau seseorang itu cantik, ditulis dengan kata, “Dia sangat cantik.” Tapi cantiknya itu gimana? Coba deh, dengan cara deskripsi:

“Maksud Nata, sekarang Niki kelihatan berbeda. Entah sejak kapan kedua tungkai kakinya mulai memanjang, diikuti dengan lekuk pinggang yang sempurna. Kulitnya terasa lembut ketika menyentuh Nata. Rambutnya mulai dipanjangkan hingga menyentuh bahu, bersih dan berkilau di bawah terik matahari. Nata jadi ingin menyentuhnya, ingin tahu karena kelihatannya halus sekali. Matanya bulat, bibirnya kemerahan, lehernya jenjang....” (Refrain – Winna Efendi)

c.     Konflik. Jangan lupa selipkan konflik untuk menghidupkan cerpen. Bikin tokoh antagonis yang ngeselin dan bikin gregetan boleh juga :’)

d.    Perhatikan EYD. Jangan abaikan yang satu ini, terutama tentang tanda baca. Perhatikan penempatan tanda titik, koma, tanda tanya, penulisan istilah asing, tanda seru, dan sebagainya.

e.    Dialog. Dialog ini bisa dijadikan petunjuk tentang watak tokoh (dramatik). Selain itu dialog juga diperlukan untuk menghayati suasana.

f.     Memasukkan pengetahuan. Ya, ya, ini termasuk bagian keren! Contohnya novel-novel Andrea Hirata. Gimana hebatnya Kak Andrea menganalogikan kehidupan dengan sains, menggunakan kata-kata asing, sampai akhir novel Laskar Pelangi ada Glosarium-nya! Duh, aku sampai merinding bacanya...

Yang terpenting adalah... sering berlatih. Bukannya bisa itu karena terbiasa? Lebih sering kita berlatih, kita akan tahu kesalahan atau kekurangan kita, lalu berusaha untuk memperbaikinya. Pokoknya, learning by doing! Jangan lupa... berdoa juga ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

 

Atika Ariyanti Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea