Tugas bahasa Indonesia paling bikin bingung adalah
“menulis”. Bener, kan? Mulai dari menulis karangan, paragraf, teks pidato,
apalagi kalau udah menulis cerpen T_T Biasanya yang paling gampang itu search
di Google. Eh, pas nanti dinilai, punya temen sebelah sama (padahal udah ngaku
karya sendiri) -_-
Yang begini pasti sering kejadian. Alasannya susah,
nggak bisa, dan bla bla bla... Padahal cerpen bisa berasal dari pengalaman kita
sendiri. Kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan *curhat*, kali pertama ketemu
si dia yang bikin hati ser-seran, sakit hati waktu putus, pertama kalinya
dirawat di rumah sakit, dapat kejutan ulang tahun, dan peristiwa lain yang kita
alami. Pengalaman pribadi bisa jadi sebuah cerpen.
Sekali lagi, menulis itu sama seperti berbicara.
Kalau ada perasaan susah atau sulit saat membuat cerpen, kita hanya belum
banyak berlatih ^_^
Langkah-langkah menulis cerpen:
1.
Menentukan tema. Yap, teman-teman harus
menentukan tema cerpen terlebih dahulu. Bisa tentang percintaan, persahabatan,
pendidikan, keluarga, atau sebagainya. Tema ini yang nantinya menjadi dasar
cerpen yang dibuat.
2.
Mengumpulkan bahan cerita. Misalnya pengalaman
pribadi, pengalaman orang lain dan kejadian di kehidupan sehari-hari.
3.
Menyusun cerita secara garis besar. Meliputi
awal cerita, tokoh yang berperan, konflik, dan akhir ceritanya nanti.
4.
Mengembangkan cerita. Nah, mungkin bagian ini
yang harus banyak dilatih. Bagaimana untuk memulai suatu cerita dengan paragraf
yang baik. Menurutku, awal paragraf sangat menentukan sebuah cerpen. Paragraf
pertama harus memberikan kesan menarik dan membuat pembaca penasaran dengan isi
cerpen.
5.
Merevisi cerita. Setelah selesai, baca kembali
cerpen yang teman-teman buat. Cek apa ada kesalahan dalam tanda baca, atau
kalimat yang kurang tepat.
Dalam menulis cerpen, ada juga hal-hal yang harus
diperhatikan, seperti:
a.
Narasi. Narasi adalah salah satu jenis
pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu
ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir (Wikipedia). Ingat,
cerpen merupakan cerita, maka cerita yang paragrafnya baik dan menarik akan
menjadikannya enak untuk dinikmati.
b.
Deskripsi. Deskripsi adalah satu kaidah upaya
pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat
dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya
sendiri (Wikipedia). Namanya juga cerita, lebih baik kalau ada
pendeskripsiannya. Jadi pembaca (sebagai orang yang tidak melihat langsung),
bisa memiliki visualisasi apa yang penulis bayangkan. Misalnya, kita ingin
bilang kalau seseorang itu cantik, ditulis dengan kata, “Dia sangat cantik.”
Tapi cantiknya itu gimana? Coba deh, dengan cara deskripsi:
“Maksud Nata, sekarang Niki
kelihatan berbeda. Entah sejak kapan kedua tungkai kakinya mulai memanjang,
diikuti dengan lekuk pinggang yang sempurna. Kulitnya terasa lembut ketika
menyentuh Nata. Rambutnya mulai dipanjangkan hingga menyentuh bahu, bersih dan
berkilau di bawah terik matahari. Nata jadi ingin menyentuhnya, ingin tahu
karena kelihatannya halus sekali. Matanya bulat, bibirnya kemerahan, lehernya
jenjang....” (Refrain – Winna Efendi)
c.
Konflik. Jangan lupa selipkan konflik untuk
menghidupkan cerpen. Bikin tokoh antagonis yang ngeselin dan bikin gregetan
boleh juga :’)
d.
Perhatikan EYD. Jangan abaikan yang satu ini,
terutama tentang tanda baca. Perhatikan penempatan tanda titik, koma, tanda
tanya, penulisan istilah asing, tanda seru, dan sebagainya.
e.
Dialog. Dialog ini bisa dijadikan petunjuk
tentang watak tokoh (dramatik). Selain itu dialog juga diperlukan untuk menghayati
suasana.
f.
Memasukkan pengetahuan. Ya, ya, ini termasuk
bagian keren! Contohnya novel-novel Andrea Hirata. Gimana hebatnya Kak Andrea
menganalogikan kehidupan dengan sains, menggunakan kata-kata asing, sampai
akhir novel Laskar Pelangi ada Glosarium-nya! Duh, aku sampai merinding
bacanya...
Yang terpenting adalah... sering berlatih. Bukannya
bisa itu karena terbiasa? Lebih sering kita berlatih, kita akan tahu kesalahan
atau kekurangan kita, lalu berusaha untuk memperbaikinya. Pokoknya, learning by
doing! Jangan lupa... berdoa juga ^_^